Asy'ariyah & Maturidiyah

Materi Pembelajaran

Materi

TOKOH-TOKOH DAN PEMIKIRAN ALIRAN MATURIDIYAH

Diantara pengikut penting Al-Maturidiyah adalah Abu Yusr Muhammad Al-Bazdawi (431-493 H). Al-Bazdawi mengetahui ajaran Maturidiyah dari orang tuanya yang penganut teologi Maturidiyah dari mazhab Hanafi. Walaupun Al-Maturidi dan Al-Bazdawi keduanya sebagai tokoh alran Maturidiyah, diantara keduanya terdapat perbedaan paham, sehingga dalam aliran Maturidiyah terdapat dua golongan, yaitu golongan Maturidiyah Samarkand yang merupakan para pengikut Al-Maturidi dan golongan Maturidiyah Bukhara yaitu para pengikut Al-Bazdawi. Berikut adalah penjelasannya.

  1. Tokoh dan Pemikiran Aliran Maturidiyah Samarkand

    Tokoh utama dalam aliran Maturidiyah Samarkand adalah Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi As-Samarqandi Al-Hanafi. Lahir di kota kecil "Maturid" dekat Kota Samarkand wilayah Transoxiana di Asia Tengah (daerah Urbekistan sekarang). Beliau lahir diperkirakan pada pertengahan III H, karena mengingat seorang guru di bidang fikih dan teologi bernama Abu Nasr ibn Yahya al-Balakhi wafat pada tahun 268H. dan berdasarkan keterangan bahwa beliau pernah berguru pada Muhammad ibn Muqatil al-Razi, yang wafat pada tahu 248H/862 M. atas asumsi ini, berarti Al-Maturidi lahir pada masa pemerintahan Al-Mutawakkil yang memerintah tahun 232-247 H/847-861M. Ia wafat tahun 333H/944M.

    Pada masa pendidikannya Abu Mansur lebih banyak menekuni bidang teologi daripada fikih, sebagai usaha memperkuat pengetahuannya untuk menghadapi pahma-paham teologi yang banyak berkembang dalam masyarakat Islam yang dipandangnya tidak sesuai dengan akidah yang benar menurut akal dan syara'. Karena keahliannya di bidang teologi, ia dipanggil orang dengan "Imam al-Mutakallimin" atau "Imam Al-Huda".

    Al-Maturidi banyak menulis tentang ajaran-ajaran Mu'tazilah, Qarmatiyyah, dan Syi'ah yang mana karya-karya beliau diantaranya adalah :

    1. Kitab Al-Tawhid
    2. Kitab Radd Awa'il Al-Adilla, sanggahan terhadap Mu'tazilah.
    3. Radd AL-Tahdhib fi Al-Jadal, sanggahan terhadap Mu'tazilah.
    4. Kitab Bayan Awham al-Mu'tazila, Kitab Pemaparan Kesalahan Mu'tazilah.
    5. Kitab Ta'wilat Al-Qur'an
    6. Kitab Al-Maqalat.
    7. Ma'akhidh al-Shara'I dalam Ushul al-Fiqh.
    8. Al-Jadal fi Ushul al-Fiqh.
    9. Radd al-Ushul al-Khamsa, sanggahan terhadap pemaparan Abu Muhammad Al-Bahili' tentang lima prinsip Mu'tazilah
    10. Radd al-Imama, sanggahan terhadap konsepsi keimaman Syi'ah.
    11. Al-Radd 'ala Ushul al-Qaramithah.
    12. Radd Wa'id al-Fussaq.

    Al-Maturidi dalam pemikiran teologinya berdasarkan pada Al-Qur'an dan akal, sama seperti Al-Asy'ari. tetapi kedudukan yang diberikan kepada akal lebih besar daripada kedudukan yang diberikan oleh Asy'ari, sebaliknya Asy'ari lebih terikat kepada Al-Qur'an. Aliran teologi Maturidiyah terletak diantara aliran Mu'tazilah dan Asy'ariyah. Adapun pemikiran-pemikiran Al-Maturidi, diantaranya adalah sebagai berikut :

    1. Tuhan mengetahui bukan dengan dzat-Nya, tetapi mengetahu dengan pengetahuan-nya, dan berkuasa bukan dengan zat-Nya.
    2. Manusialah yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
    3. Tuhan memiliki kewajiban-kewajiban tertentu, sekurang-kurangnya kewajiban menepati janji tentang pemberian upah dan pemberian hukuman.
    4. Kalam atau sabda Tuhan tidak diciptakan, tetapi bersifat qadim
    5. Orang yang berdosa besar masih tetap mukmin, dan soal dosa besarnya akan ditentukan Tuhan kelak di akhirat.
    6. Ayat-ayat yang menggambarkan Tuhan mempunyai bentuk jasmani tak dapat diberi interpretasi atau ta'wil. Menurutnya tangan, wajah dan sebagainya mesti diberi arti majazi atau kiasan.
    7. Akal dapat mengetahui eksistensi Tuhan. Oleh karena Allah sendiri memerintahkan manusia untuk menyelidiki dan merenungi alam ini. Ini menunjukkan bahwa dengan akal, manusia dapat mencapai ma'rifat kepada Allah.
    8. Adapun mengenai kewajiban berbuat baik dan menjauhi yang buruk, menurut paham Maturidiah Samarkand akal tidak berdaya mewajibkan manusia terhadap hal tersebut. Karena kewajiban berbuat baik dan menjauhi yang buruk hanya dapat diketahui oleh wahyu.
    9. Iman adalah tashdiq bi al-qalb, bukan semata-mata iqrar bi al-lisan. Keimanan itu tidak cukup hanya dengan perkataan semata tanpa diimani pula oleh qalbu. Apa yang diucapkan lidah dalam bentuk pernyataan iman, menjadi batal jika hati tidak mengakui ucapan lidah. Menurutnya tashdiq seperti yang dipahami di atas, harus diperoleh dari ma'rifah. Tashdiq hasil dari ma'rifah ini, didapatkan melalui penalaran akal. Bukan sekedar berdasarkan wahyu. Jadi menurut AlMaturidi, iman adalah tashdiq yang berdasarkan ma'rifah. Meskipun demikian, ma'rifah menurutnya sama sekali bukan esensi iman.
  2. Tokoh Ajaran Aliran Maturidiyah Bukhara

    Tokoh utama dalam aliran Maturidiyah Bukhara adalah pengikut al-Maturidi sendiri yang pada akhirnya memiliki pemahaman yang berbeda dengannya dalam hal-hal kalam yang mana lebih cendrung kepada pemahaman alAsy'ariyah, dia adalah Abu Yusr Muhammad bin Muhammad bin al Husain bin Abd. Karim al-Bazdawi.

    Al-Bazdawi mulai memahami ajaran-ajaran al Maturidiyah lewat lingkungan keluarganya kemudian dikembangkan pada kegiatannya mencari ilmu pada ulama-ulama secara tidak terikat. Ada beberapa nama ulama sebagai guru al Bazdawi antara lain: Ya'kub bin Yusuf bin Muhammad al-Naisaburi dan Syekh al-Imam Abu Khatib. Di samping itu, ia juga menelaah buku-buku filosof seperti al-Kindi dan buku-buku Mu'tazilah seperti Abd. Jabbar al Razi, al-Jubba'i, al-Ka'bi, dan al-Nadham. Selain itu ia juga mendalami pemikiran al Asy'ari dalam kitab al-Mu'jiz. Adapun dari karangan-karangan al Maturidi yang dipelajari ialah kitab al-tauhid dan kitab Ta'wilah al Qur'an. Al Bazdawi berada di Bukhara pada tahun 478 H / 1085 M. Kemudian ia menjabat sebagai Qadhi Samarkand pada tahun 481 H / 1088 M, lalu kembali di Bukhara dan meninggal di kota tersebut tahun 493 H / 1099 M. Adapun ajaran-ajaran dari al-Bazdawi yaitu:

    1. Akal tidak dapat mengetahui tentang kewajiban mengetahui Tuhan sekalipun akal dapat mengetahui Tuhan dan mengetahui baik dan buruk. Akal tidak dapat mengetahui kewajiban-kewajiban dan hanya mengetahui sebab-sebab yang membuat kewajiban-kewajiban menjadi suatu kewajiban.
    2. Pelaku dosa masih tetap sebagai mukmin karena adanya keimanan dalam dirinya. Adapun balasan yang diperolehnya kelak di akhirat bergantung pada apa yang dilakukannya di dunia. Jika ia meninggal tanpa tobat terlebih dahulu, keputusannya diserahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT. Jika menghendaki pelaku dosa besar itu diampuni, ia akan memasukkannya ke neraka, tetapi tidak kekal di dalamnya.
    3. Iman adalah tashdiq bi  al-qalb dan tashdiq bi al-lisan.  Tasdiq bi al-qalb adalah meyakini dan membenarkan dalam hati tentang keesaan Allah dan rasul-rasul yang diutus-Nya beserta risalah yang dibawanya. Adapun yang dimaksud dengan tashdiq bi al –lisan adalah mengakui kebenaran seluruh pokok ajaran Islam secara verbal.
    4. Tuhan wajib menepati janji untuk memberi upah kepada yang berbuat baik. Akan tetapi bisa saja Tuhan membatalkan ancaman untuk memberi hukuman kepada orang yang berbuat jahat. Nasib orang yang berbuat dosa ditentukan oleh kehendak mutlak Tuhan.
    5. Manusia tidak mempunyai daya untuk melakukan perbuatan, hanya Tuhanlah yang dapat mencipta, dan manusia hanya dapat melakukan perbuatan yang telah diciptakan Tuhan baginya
    6. Tuhan mempunyai sifat-sifat. Tuhan tidaklah mempunyai sifat-sifat jasmani. Ayat-ayat al-Qur'an yang menggambarkan Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani haruslah diberi takwil.
    7. Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala menurut apa yang Tuhan kehendaki.
    8. Al-Qur'an itu adalah kekal tidak diciptakan.
    9. Tuhan mempunyai kehendak mutlak. Tuhan berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya dan menentukan segala-galanya. Tidak ada yang dapat menentang atau memaksa Tuhan dan tidak ada larangan bagi Tuhan.

Menu Lainnya